Senin, 31 Oktober 2011

Ruang Lingkup Manajemen Pendidikan Islam


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Manajemen merupakan salah satu komponen vital sebuah lembaga pendidikan  maupun institusi-institusi yang lain. Mekanisme manajemen yang jelek akan sangat berpengaruh terhadap mutu atau out-putnya. Pendidikan dapat dikatakan berkualitas jika berhasil menelorkan out-put atau lulusan yang sesuai dengan tujuan atau cita-cita pendidikan itu sendiri, sedangkan untuk merealisasikan tujuan pendidikan dalam  proses pendidikannya banyak kendala yang dihadapi oleh manajer dalam hal ini adalah kepala sekolah. Untuk mencapai tujuan tersebut secara efektif dan efisien, maka diperlukan diantaranya adanya manajemen yang professional. Dengan melaksanakan manajemen  pendidikan tersebut, secara professional diharapkan untuk dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Selain kondisi sekolah yang masih dalam tahap perkembangan, sementara itu lingkungan sudah mulai masuk dalam bentuk kehidupan yang mulai modern, maka tuntutan masyarakatpun semakin kompleks. Lemahnya kualitas pendidikan seringkali disebabkan oleh lemahnya peran manajemen dan pengelolaan pendidikan secara keseluruhan.. Berdasarkan  uraian di atas, untuk mengantisipasi problem yang berkelanjutan dalam bidang pendidikan, dibutuhkan pembenahan-pembenahan terhadap semua unsur yang ada, termasuk pembenahan dalam bidang manajemennya. Dalam rangka untuk memotivasi pengembangan aspek managerial pendidikan.
Pendidikan merupakan sebuah proses dan sekaligus sistem yang bermuara dan berujung pada pencapaian suatu kualitas manusia tertentu yang dianggap dan diyakini sebagai yang ideal. Dalam tata kehidupan yang berkembang semakin rumit, proses dan sistem pendidikan  sukar berjalan dengan mulus, karena terkait dengan persoalan demi persoalan yang siap menghadang lajunya proses pencapaian tujuan pendidikan. Rangkaian kejadian-kejadian di sekitar, yang bersifat lokal sampai yang bersifat global yang merefleksikan kualitas manusia di bawah standar ideal,  merupakan bukti ketidakmulusan proses dan sistem  pendidikan. Bahkan persoalan-persoalan yang selalu timbul menjadi bom waktu yang setiap saat siap meledak dan menghancurkan sistem pendidikan kapan saja. Kita memang harus prihatin dengan kenyataan yang ada, namun  itu saja tidak cukup, tentunya harus disertai dengan menanggapi persoalan-persoalan pendidikan yang timbul. Namun yang pasti diharapkan tumbuhnya suatu kreatifitas yang secara terus menerus berusaha mengembangkan sistem pendidikan.  Agar suatu sistem dapat bekerja dengan baik, dibutuhkan adanya perencanaan dan pengorganisasian yang baik dan teratur. Semua manusia yang terlibat didalamnya harus terorganisasi melalui perencanaan terlebih dahulu sehingga mereka mempunyai tanggung jawab dan wewenang serta hak dan kewajiban, sesuai dengan kedudukan dan fungsinya masing-masing. Dengan  manajemen yang baik, tentunya akan menghasilkan tujuan-tujuan yang diharapkan.  Sedangkan manajemen adalah proses untuk menyelenggarakan dan mengawasi suatu tujuan tertentu. Setiap sistem pasti memiliki tujuan, dana semua kegiatan dari komponen-komponen atau bagian-bagiannya adalah diarahkan untuk menuju tercapainya tujuan tersebut. Dari latar belakang inilah penulis akan membahas hal-hal yang terkait dengan ruang lingkup manajemen pendidikan Islam.
a.      Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah ruang lingkup manajemen pendidkan Islam?
2.      Bagaimanakah peranan manajemen dalam pendidkan Islam?
b.      Tujuan
1.      Untuk mengetahui ruang lingkup manajemen pendidikan Islam
2.      Untuk mengetahui peranan manajemen dalam pendidikan Islam






BAB II
KAJIAN TEORITIS
A.    Ruang lingkup Manajemen Pendidikan Islam
1.      Penegertian Manajemen
            Istilah  manajemen berasal dari kata to manage berarti control. Dalam bahasa Indonesia dapat diartikan  mengendalikan, menangani atau  mengelola.[1]  Sedangkan Management berasal dari kata latin yaitu “manus” yang artinya “to control by hand” atau  “gain result”. Manajemen dapat didefinisikan sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, pengisian staf, pemimpinan, dan  pengontrolan untuk optimasi penggunaan sumber-sumber dan pelaksanaan tugas-tugas dalam mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien.[2]
Selanjudnya, kata benda manajemen atau management dapat mempunyai berbagai arti. Pertama,  sebagai pengelolaan, pengendalian atau penanganan (managing). Kedua,  perlakuan secara terampil untuk menangani sesuatu berupa skillful treatmen. Ketiga, gabungan dari dua pengertian tersebut, yaitu yang berhubungan dengan pengelolaan suatu perusahaan, rumah tangga atau suatu bentuk kerja sama dalam mencapai suatu tujuan tertentu.
Tiga pengertian itu mendukung kesepakatan anggapan bahwa manajemen dapat dipandang sebagai ilmu dan seni. Luther Gulick mengatakan  Manajemen sering diartikan sebagai ilmu, kiat/seni, dan profesi.  manajemen sebagai ilmu, karena manajemen dipandang sebagai suatu bidang pengetahuan yang secara sistematik berusaha memahami mengapa dan bagaimana orang bekerjasama. Sebagai kiat/seni, karena manajemen  mencapai sasaran melalui cara-cara dengan mengatur orang lain menjalankan dalam tugas. Disisi lain manajemen, dipandang sebagai profesi karena manajemen dilandasi oleh keahlian khusus untuk mencapai suatu prestasi manajer, dan para profesional dituntut oleh suatu kode untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelumnya.[3]
Istilah manajemen berhubungan dengan usaha untuk tujuan tertentu dengan jalan menggunakan sumber-sumber daya yang tersedia dalam organisasi dengan cara yang sebaik mungkin. Setiap organisasi selalu membutuhkan manajemen karena tanpa manajemen yang efektif tak akan ada usaha yang berhasil cukup lama. Manajemen akan memberikan efektivitas pada usaha manusia. Untuk memperjelas arti manajemen, dibawah ini kutipan pendapat beberapa pakar dibidang manajemen,  pendapat yang satu dapat berbeda dengan yang lain walaupun terdapat unsur kesamaannya. Dari perbedaan-perbedaan pendapat (yang disebabkan karena perbedaan dalam menentukan titik berat sudut pandang) serta kesamaan-kesamaan itu diharapkan dapat diperoleh pandangan yang jelas dan menyeluruh tentang manajemen. Manajemen sering diartikan sebagai ilmu, kiat/seni dan profesi. Menurut John F. Mee menyatakan bahwa manajemen adalah “ Management is the art of securing maximum result with minimum of efforts as to secure maximum prosperity and happiness for both employer and employee and give the public the best posible service” ( Manajemen adalah seni untuk mencapai hasil yang maksimal dengan usaha yang minimal, demikian pula mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan maksimal baik bagi pimpinan maupun para pekerja serta memberikan pelayanan yang sebaik mungkin kepada masyarakat). Sedangkan menurut George F. TerryManagement is distinct process consisting of planning, organizing, actuating, controlling, utilizing in each both science and art and follow in order to accomplish predetermined objectives” (Manajemen adalah proses yang khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian yang masing-masing bidang tersebut digunakan baik ilmu pengetahuan maupun keahlian dan yang diikuti secara berurutan dalam rangka usaha mencapai sasaran yang telah ditetapkan semula). Hal yang sama diungkapkan oleh Skinner dan Ivancevich  menyatakan bahwa “Management will be defined as the application of planning, organizing, staffing, directing, and controlling functions in the most efficient manner possible to accomplish objectives” (Manajemen dapat didefinisikan sebagai penggunaan perencanaan, pengorganisasian, pengerjaan, pengarahan, dan fungsi pengendalian dalam cara yang paling efisien untuk mencapai sasaran). Kemudian Mary Parker Follet menyatakan bahwa definisi manajemen sebagai seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini mengandung arti bahwa para manajer mencapai tujuan-tujuan organisasi melalui pengaturan orang-orang lain untuk melaksanakan berbagai tugas yang mungkin diperlukan atau berarti dengan tidak melakukan tugas-tugas itu sendiri. Jadi, dari kesimpulan pengertian diatas dapat ditarik dari kesamaan-kesamaan yang terdapat dalam definisi diatas adalah bahwa:
1)      Manajemen selalu diterapkan dalam hubungan dengan usaha suatu kelompok manusia dan tidak terdapat suatu usaha seseorang tertentu.
2)      Dalam pengertian manajemen selalu terkandung adanya sesuatu tujuan tertentu yang akan dicapai oleh kelompok yang bersangkutan. Maka, secara singkat dapat dikatakan bahwa manajemen adalah persoalan mencapai suatu tujuan tertentu dengan suatu kelompok orang.[4]
2.   Peranan Organisasi
Menurut Fattah[5] bahwa istilah organisasi mempunyai dua pengertian umum, yaitu: Pertama, organisasi diartikan sebagai suatu lembaga atau kelompok fungsional, misalnya sebuah perusahaan, sebuah sekolah, sebuah perkumpulan, badan-badan pemerintahan. Kedua, merujuk pada proses pengorganisasian yaitu bagaimana pekerjaan diatur dan dialokasikan diantara para anggota, sehingga tujuan organisasi itu dapat tercapai secara efektif. Sedangkan organisasi itu sendiri diartikan sebagai kumpulan orang dengan sistem kerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Menurut Chester I. Barnard menyatakan bahwa organisasi mengandung tiga elemen, yaitu: kemampuan untuk bekerja sama, tujuan yang ingin dicapai dan komunikasi[6]. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar diperoleh bentuk struktur organisasi yang efisien, yaitu:
1.      Adanya spesialisasi dan pembagian pekerjaan.
2.      Adanya pendelegasian wewenang yang jelas
3.      Adanya rentang kendali yang sesuai dengan kemampuan supervisi seseorang
4.      Adanya proses pendelegasian dan pengintegrasian.
5.      Adanya unsur lini dan staff. Pelaksanaan,
3.      Unsur-Usur manajemen
Menurut George R Terry dalam bukunya Prinsiple of management mengatakan, ada enam Sumber daya pokok dari manajemen, yaitu : men and women, materials, machines, methods, money.
Dari Pendapat diatas menunjukkan bahwa manusia merupakan unsur manajemen yang pokok.  Manusia tidak dapat disamakan dengan benda, ia mempunya peranan, pikiran, harapan serta gagasan. Reakasi psikisnya terhadap keadaan sekeliling dapat menimbukan pengaruh yang lebih jauh dan mendalam serta sukar untuk diperhitungkan secara seksama. Oleh karena itu, manusia perlu senantiasa diperhatikan untuk dikembangkan kearah yang positif sesuai dengan martabat dan kepribadiannya sebagai manusia.[7]
4.      Ciri-Ciri profesionalisme
Edgar H. Schein dan Borje O.Saxberg dalam stoner James A.F dan Charles Wankel  merusmuskan ciri-ciri orang professional sebagai berikut
a.  Orang-orang yang professional mendasarkan keputusannya pada prinsip-prinsip umum sehingga banyaknya kursus dan program latihan manajemen menunjukkan bahwa prinsip-prinsip manajemen dapat dipercaya dan digunakan sebaagai patokan khusus.
b.  Orang-orang profesinal mencapai status profesionalnya melalui prestasi, bukan melalui favoritism atau factor lain yang tidak berhubungan  dengan pekerjaan. Walaupun belum ada stantar obyektif yang disepakati untuk menilai prestasi manejerial.
c.       Orang-orang professional harus tunduk pada kode etik yang melindungi kliennya. Namun karena keprofesionalan pada bidang khusus, sering kali klien terlalu berharap padanya dan sebagai akibatnya, manajer berada dalam posisi yang rawan.
d.  Borje O. Saxberg menyarankan karakteristik yang keempat dari profesionalisme yaitu pengabdian (dedication) dan keterikatan (commitment) sehingga dalam setiap bidang orang profesioanal menggabungkan hidup dan pekerjaannya melalui pengabdian dan keterikatan pribadinya.[8]
5.      Tingkatan-tingkatan manejemen
Pada dasarnya dalam setiap organisasi terdapat dua kelompok besar manusia, yaitu para karyawan yang bertugas untuk melaksanakan kegitan-kegitan operasional disebut rank and file atau karyawan dan mereka yang tergolong kelompok pimpinan. Kelompok pimpinan terdiri atas pimpinan tinggi (Top manajemen), pimpinan menengah (middle manajemen) dan pimpinan rendah (lower manajemen) ketiga tingkatan manajemen ini menunjukkan bahwa semakin bawah semakin banyak jumlah orangnya.[9]
6.      Fungsi manajemen
Menurut Skinner merumuskan bahwa fungsi manajemen meliputi : perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengerjaan (staffing), pengarahan (directing), pengendalian (controlling). Sedangkan menurut Stephen P. Robbin merumuskan bahwa fungsi manajemen meliputi: perencaan (planning),  pengorganisasian (organizing), memimpin (leading), dan pengendalian (controlling). Hal yang senada juga diungkapkan oleh Fattah  yang menyebutkan bahwa kegiatan manajerial meliputi banyak aspek, namun aspek utama dan esensial yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating) dan pengawasan (controlling). Perencanaan adalah proses dasar dimana manajemen memutuskan tujuan dan cara mencapainya. Semua kegiatan perencanaan pada dasarnya melalui empat tahap berikut ini : Tahap pertama, adalah menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan. Perencanaan dimulai dengan keputusan-keputusan tentang keinginan atau kebutuhan organisasi atau kelompok kerja. Tanpa rumusan tujuan yang jelas, organisasi akan menggunakan sumber dayanya secara tidak efektif. Tahap kedua, merumuskan keadaan saat ini. Pemahaman akan posisi sekarang dari tujuan yang hendak dicapai atau sumber daya-sumber daya yang tersedia untuk pencapaian tujuan, adalah sangat penting, karena tujuan dan rencana menyangkut waktu yang akan datang. Hanya setelah keadaan saat ini dianalisa, rencana dapat dirumuskan untuk menggambarkan rencana kegiatan lebih lanjut. Tahap kedua ini memerlukan informasi yang didapatkan melalui komunikasi dalam organisasi. Tahap ketiga, mengidentifikasikan segala kemudahan dan hambatan. Segala kekuatan dan kelemahan serta kemudahan dan hambatan perlu diidentifikasikan untuk mengukur kemampuan organisasi dalam mencapai tujuan. Oleh karena itu perlu diketahui faktor-faktor lingkungan intern dan ekstern yang dapat membantu organisasi mencapai tujuannya, atau yang mungkin menimbulkan masalah. Walaupun sulit dilakukan, antisipasi keadaan, masalah, dan kesempatan serta ancaman yang mungkin terjadi diwaktu mendatang adalah bagian esensi dari proses perencanaan. Tahap keempat, adalah mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk pencapaian tujuan. Tahap terakhir dalam proses perencanaan meliputi pengembangan berbagai alternatif kegiatan untuk pencapaian tujuan, penilaian alternative-alternatif tersebut dan pemilihan alternatif terbaik (paling memuaskan) diantara berbagai alternatif yang ada. Mencermati pandangan di atas, maka ada 2 alasan dasar perlunya perencanaan. Perencanaan dilakukan untuk mencapai: Pertama, “protective benevits” yang dihasilkan dari pengurangan kemungkinan terjadinya kesalahan dalam pembuatan keputusan. Kedua, “positive benevits” dalam bentuk meningkatnya sukses pencapaian tujuan organisasi.  Lebih lanjut Menurut Handoko mengatakan bahwa perencanaan mempunyai banyak manfaat. Sebagai contoh, perencanaan :
1.      Membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan perubahan lingkungan,
2.      Membantu dalam kristalisasi persesuaian pada masalah-masalah utama,
3.      Memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran operasi lebih jelas
4.      Membantu menempatkan tanggung jawab lebih tepat,
5.      Memberikan cara pemberian perintah untuk beroperasi,
6.      Memudahkan dalam melakukan koordinasi diantara berbagai bagian organisasi,
7.      Membuat tujuan lebih khusus, terperinci dan lebih mudah difahami,
8.      Meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti
9.      Menghemat waktu usaha dan dana. [10]

2.      Peranan Manajemen Dalam Pendidikan Islam
Lembaga pendidikan, dalam bahasa Inggris disebut institute (berbentuk fisik), yaitu sarana atau organisasi untuk mencapai tujuan tertentu, dan lembaga dalam pengertian non-fisik atau abstrak disebut institution yaitu suatu sistem norma untuk memenuhi kebutuhan. Lembaga dalam bentuk fisik disebut juga bangunan, sedangkan non-fisik disebut pranata. Secara terminologi, lembaga pendidikan Islam menurut Hasan Langgulung adalah sustu sistem peraturan yang bersifat mujarrad, suatu konsepsi yang terdiri dari kode-kode, norma-norma, idiologi-idiologi dan sebagainya, baik tertulis atau tidak, termasuk perlengkapan material dan organisasi simbolik: kelompok manusia yang terdiri dari individu-individu yang dibentuk dengan sengaja atau tidak, untuk mencapai tujuan tertentu dan tempat-tempat kelompok itu melaksanakan peraturan-peraturan tersebut adalah lembaga pendidikan Islam.
Dengan demikian, untuk menerapkan  pendidikan Islam perlu suatu lembaga dan lembaga tersebut harus terorganisir sedemikian  rupa sehingga tujuan pendidikan Islam dapat dicapai secara efektif dan efisien. Tegasnya, diperlukan organisasi lembaga pendidikan yang profesional. Berbicara tentang lembaga pendidikan Islam, dapat dilihat dari segi proses pembentukannya, yaitu formal, nonformal, dan informal. Akan tetapi, lembaga pendidikan Islam dalam bentuk institute biasanya dikelola oleh lembaga Departemen Agama dimana di dalamnya terdapat lembaga pendidikan formal dan nonformal.
Pendidikan Islam dipetakan ke dalam tiga jenis pendidikan, yaitu pendidikan agama Islam pada satuan pendidikan, pendidikan umum berciri Islam, dan pendidikan keagamaan Islam. Pendidikan Islam pada satuan pendidikan dilakukan melalui koordinasi antara Ditjen Pendidikan Islam Departemen Agama dan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Sekolah/Madrasah, sebagai lembaga pendidikan formal yang di dalamnya terdapat kepala sekolah, guru-guru, pegawai tata usaha, siswa, dan sebagainya memerlukan adanya organisasi yang baik agar tujuannya dapat dicapai. Menurut sistem persekolah di negeri kita, pada umumnya Kepala Sekolah/Madrasah merupakan jabatan yang tertinggi di sekolah itu sehingga dengan demikian kepala sekolah memegang peranan dan pimpinan segala sesuatunya yang berhubungan dengan tugas sekolah/medrasah ke dalam maupun ke luar. Maka dari itu dalam struktur organisasi lembaga ini pun kepala sekolah biasanya selalui ditempatkan yang paling atas.
Faktor lain yang menyebabkan perlunya organisasi sekolah/madrasah yang baik ialah karena tugas guru-guru tidak hanya mengajar saja, juga pegawai-pegawai tata usaha, pesuruh sekolah, dan sebagainya semuanya harus bertanggung jawab dan diikutsertakan dalam menjalankan  roda organisasi itu secara keseluruhan. Dengan demikian, agar tidak overlapping dalam  memegang/menjalankan tugasnya masing-masing, diperlukan organisasi sekolah/madrasah yang baik dan teratur. Sebagai organisasi, sekolah atau madrasah tersebut tentu memiliki visi dan misi tertentu dengan mengacu kepada nilai-nilai ajaran Islam. Kemudian di dalamnya terdapat struktur organisasi yang dipimpin oleh seorang kepala sekolah/madrasah dan dibantu oleh beberapa orang wakil, seperti wakil bidang kurikulum, wakil bidang sarana prasarana, dan wakil bidang kesiswaan. Para guru juga diorganisir sesuai dengan kebutuhan, seperti wali kelas, koordinator masing-masing mata pelajaran, pembina OSIS, dan sebagainya. Adapun sistem penanggung jawab lembaga tersebut awalnya bersifat sentralistik. Namun dewasa ini, seiring dengan otonomi daerah, sistem sentralistik secara berlahan mulai berubah ke arah desentralistik, meskipun belum sepenuhnya, khususnya di lingkungan Departemen Agama.
Mengenai pengelolaan madrasah/pesantren di lingkungan Departemen Agama yang masih bersifat sentralistik memiliki kelebihan dan kekurangan. Lembaga pendidikan formal di bawah Departemen Agama seperti Madrasah cenderung hanya memperoleh anggaran biaya dari Departemen Agama pusat dan terkesan kurang perhatian dari pemerintah daerah. Padahal madrasah juga berperan dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat lokal di tingkat daerah tersebut. Meskipun demikian, ada juga pemerintah daerah yang menganggarkan biaya untuk madrasah tersebut, sesuai dengan kebijakan masing-masing pemerintah daerah. Kebijakan ini tentu terkait dengan besarnya APBD yang dimilikinya.
Namun, yang menjadi persoalan berikutnya adalah madrasah yang memperoleh dana cukup dari departemen agama tersebut justru lebih terfokus kepada madrasah negeri, sementara madrasah swasta kurang mendapat perhatian. Padahal, jumlah madrasah swasta jauh lebih banyak dari pada madrasah negeri. Akhirnya, madrasah swasta yang memperoleh "penghidupan" dari masyarakat setempat cenderung mengalami kesulitan dalam merancang dan melaksanakan program pendidikan yang berkualitas.
Menyikapi persoalan di atas, seharusnya pemerintah daerah mengambil kebijakan yang proporsional (adil) terhadap pembangunan dan pengembangan lembaga pendidikan Islam, seperti madrasah dan pesantren. Sebab, madrasah dan pesantren juga berperan besar dalam mencerdaskan masyarakat di tingkat daerah tersebut. Meskipun madrasah dikelola secara sentralistik, akan tetapi pemerintah daerah perlu menganalisis perbandingan antara anggaran yang diperoleh madrasah dengan anggaran yang diperoleh sekolah umum. Jika APBD di tingkat daerah memang relatif kecil, maka diharapkan pemerintah dapat memotivasi masyarakat untuk berperan aktif dalam membangun lembaga pendidikan di daerah tersebut, baik umum maupun lembaga pendidikan Islam. Oleh karena itu, dibutuhkan koordinasi yang baik lagi harmonis antara departemen agama dengan dinas pendidikan dari pusat hingga di tingkat daerah kota/kabupaten, termasuk dengan pemerintah daerah. Dengan begitu diharapkan pengelolaan organisasi lembaga pendidikan Islam dilakukan secara profesional sehingga bermutu dan mampu bersaing di tingkat global.[11]









BAB III
KESIMPULAN

Dari pembahasan makalah diatas penulis dapat menyimpulkan

1. Adapun Ruang lingkup manajemen antara lain, Pengetian manajemen, Peranan organisasi, unsur-unsur manajemen, cirri-ciri profesionalisme, tingkatan-tingkatan manajemen, dan fungsi-fungsi manajemen.
2.
   Peranan manejemen dalam pendidikan Islam adalah  pengorganisasian lembaga pendidikan islam sesuai dengan Visi dan misi  tertentu dengan mengacu kepada nilai-nilai ajaran Islam.




















DAFTARPUSTAKA


Fattah, Nanang, Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya. 1999

Nasution.M.N.. Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management). Jakarta : Ghalia Indonesia. 2001.

Nawawi, Hadari,  Administrasi Pendidikan Jakarta : Gunung Agung, 1995

M. Herujito, Yayat, Dasar-Dasar Manajemen, Jakarta:PT Grasindo, 2001.

Schuler, Randall.S dan Susan E.Jackson,  Manajemen Sumber Daya Manusia (Menghadapi Abad Ke-21,) Jakarta : Erlangga Jilid 1. 1997.

Poerwanto, Ngalim, Administrasi Pendidikan, Jakarta : Mutiara Sumber Widya, 1988.
Winardi, J., Teori Organisasi dan Pengorganisasian, Jakarta: Rajawali Press, 2006.
www.suryantara. wordpress. Com
http://www. kherysudeska.blogspot.com.












RUANG LINGKUP MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM

MAKALAH
Tugas Ini Untuk Memenuhi Mata Kuliah Manajemen Pendidikan Islam
Dosen Pembimbing :
Prof. Dr. H. Baharuddin, M.PdI







Disusun oleh :
Edy Sutrisno
(NIM. 09770004)


JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2009




[1] M. Herujito, Yayat, Dasar-Dasar Manajemen, Jakarta:PT Grasindo, 2001, h.1
[2] Rain, http://www. kherysudeska.blogspot.com.
[3] Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: Remaja RosdaKarya, 1999 hlm.1.

[4] Ibid
[5] Ibid
[6] Fattah, Nanang. Op.Cit. Hlm.71

[7] M. Herujito, Yayat, Op.Cit. 6-7

[8] M. Herujito, Yayat, Op.Cit. h.7-8
[9] M. Herujito, Yayat, Op.Cit. h.11
[10] Muhammad Kosim, www.suryantara. wordpress. com
[11] Ibid

0 komentar: