BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manajemen merupakan
salah satu komponen vital sebuah lembaga pendidikan maupun institusi-institusi yang lain.
Mekanisme manajemen yang jelek akan sangat berpengaruh terhadap mutu atau
out-putnya. Pendidikan dapat dikatakan berkualitas jika berhasil menelorkan
out-put atau lulusan yang sesuai dengan tujuan atau cita-cita pendidikan itu
sendiri, sedangkan untuk merealisasikan tujuan pendidikan dalam proses pendidikannya banyak kendala yang
dihadapi oleh manajer dalam hal ini adalah kepala sekolah. Untuk mencapai
tujuan tersebut secara efektif dan efisien, maka diperlukan diantaranya adanya
manajemen yang professional. Dengan melaksanakan manajemen pendidikan tersebut, secara professional
diharapkan untuk dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Selain kondisi sekolah
yang masih dalam tahap perkembangan, sementara itu lingkungan sudah mulai masuk
dalam bentuk kehidupan yang mulai modern, maka tuntutan masyarakatpun semakin
kompleks. Lemahnya kualitas pendidikan seringkali disebabkan oleh lemahnya
peran manajemen dan pengelolaan pendidikan secara keseluruhan.. Berdasarkan uraian di atas, untuk mengantisipasi problem
yang berkelanjutan dalam bidang pendidikan, dibutuhkan pembenahan-pembenahan
terhadap semua unsur yang ada, termasuk pembenahan dalam bidang manajemennya.
Dalam rangka untuk memotivasi pengembangan aspek managerial pendidikan.
Pendidikan
merupakan sebuah proses dan sekaligus sistem yang bermuara dan berujung pada
pencapaian suatu kualitas manusia tertentu yang dianggap dan diyakini sebagai
yang ideal. Dalam
tata kehidupan yang berkembang semakin rumit, proses dan sistem pendidikan sukar berjalan dengan mulus, karena terkait
dengan persoalan demi persoalan yang siap menghadang lajunya proses pencapaian
tujuan pendidikan. Rangkaian kejadian-kejadian di sekitar, yang bersifat lokal
sampai yang bersifat global yang merefleksikan kualitas manusia di bawah
standar ideal, merupakan bukti
ketidakmulusan proses dan sistem pendidikan.
Bahkan persoalan-persoalan yang selalu timbul menjadi bom waktu yang setiap saat
siap meledak dan menghancurkan sistem pendidikan kapan saja. Kita memang harus prihatin dengan
kenyataan yang ada, namun itu saja tidak
cukup, tentunya harus disertai dengan menanggapi persoalan-persoalan pendidikan
yang timbul. Namun yang pasti diharapkan tumbuhnya suatu kreatifitas yang
secara terus menerus berusaha mengembangkan sistem pendidikan. Agar suatu sistem dapat bekerja dengan baik,
dibutuhkan adanya perencanaan dan pengorganisasian yang baik dan teratur. Semua
manusia yang terlibat didalamnya harus terorganisasi melalui perencanaan
terlebih dahulu sehingga mereka mempunyai tanggung jawab dan wewenang serta hak
dan kewajiban, sesuai dengan kedudukan dan fungsinya masing-masing. Dengan manajemen yang baik, tentunya akan
menghasilkan tujuan-tujuan yang diharapkan.
Sedangkan manajemen adalah proses untuk menyelenggarakan dan mengawasi
suatu tujuan tertentu. Setiap
sistem pasti memiliki tujuan, dana semua kegiatan dari komponen-komponen atau
bagian-bagiannya adalah diarahkan untuk menuju tercapainya tujuan tersebut. Dari
latar belakang inilah penulis akan membahas hal-hal yang terkait dengan ruang
lingkup manajemen pendidikan Islam.
a.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimanakah
ruang lingkup manajemen pendidkan Islam?
2. Bagaimanakah
peranan manajemen dalam pendidkan Islam?
b.
Tujuan
1. Untuk
mengetahui ruang lingkup manajemen pendidikan Islam
2. Untuk
mengetahui peranan manajemen dalam pendidikan Islam
BAB II
KAJIAN TEORITIS
A.
Ruang
lingkup Manajemen Pendidikan Islam
1. Penegertian Manajemen
Istilah manajemen
berasal dari kata to manage berarti
control. Dalam bahasa Indonesia dapat diartikan
mengendalikan, menangani atau mengelola.[1] Sedangkan Management berasal dari kata latin
yaitu “manus” yang artinya “to control by hand” atau “gain result”. Manajemen dapat didefinisikan
sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, pengisian staf, pemimpinan, dan pengontrolan untuk optimasi penggunaan
sumber-sumber dan pelaksanaan tugas-tugas dalam mencapai tujuan organisasi
secara efektif dan efisien.[2]
Selanjudnya, kata benda manajemen atau management dapat mempunyai berbagai arti. Pertama, sebagai
pengelolaan, pengendalian atau penanganan (managing). Kedua, perlakuan secara
terampil untuk menangani sesuatu berupa skillful treatmen. Ketiga, gabungan dari dua pengertian tersebut, yaitu yang
berhubungan dengan pengelolaan suatu perusahaan, rumah tangga atau suatu bentuk
kerja sama dalam mencapai suatu tujuan tertentu.
Tiga pengertian itu mendukung
kesepakatan anggapan bahwa manajemen dapat dipandang sebagai ilmu dan seni.
Luther Gulick mengatakan Manajemen
sering diartikan sebagai ilmu, kiat/seni, dan profesi. manajemen sebagai ilmu, karena manajemen
dipandang sebagai suatu bidang pengetahuan yang secara sistematik berusaha
memahami mengapa dan bagaimana orang bekerjasama. Sebagai kiat/seni, karena
manajemen mencapai sasaran melalui
cara-cara dengan mengatur orang lain menjalankan dalam tugas. Disisi lain
manajemen, dipandang sebagai profesi karena manajemen dilandasi oleh keahlian
khusus untuk mencapai suatu prestasi manajer, dan para profesional dituntut
oleh suatu kode untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan
sebelumnya.[3]
Istilah manajemen berhubungan dengan usaha untuk
tujuan tertentu dengan jalan menggunakan sumber-sumber daya yang tersedia dalam
organisasi dengan cara yang sebaik mungkin. Setiap organisasi selalu
membutuhkan manajemen karena tanpa manajemen yang efektif tak akan ada usaha
yang berhasil cukup lama. Manajemen akan memberikan efektivitas pada usaha
manusia. Untuk memperjelas arti manajemen, dibawah ini kutipan pendapat
beberapa pakar dibidang manajemen, pendapat
yang satu dapat berbeda dengan yang lain walaupun terdapat unsur kesamaannya.
Dari perbedaan-perbedaan pendapat (yang disebabkan karena perbedaan dalam menentukan
titik berat sudut pandang) serta kesamaan-kesamaan itu diharapkan dapat
diperoleh pandangan yang jelas dan menyeluruh tentang manajemen. Manajemen
sering diartikan sebagai ilmu, kiat/seni dan profesi. Menurut John F. Mee menyatakan
bahwa manajemen adalah “ Management is the art of securing maximum result with
minimum of efforts as to secure maximum prosperity and happiness for both
employer and employee and give the public the best posible service” ( Manajemen
adalah seni untuk mencapai hasil yang maksimal dengan usaha yang minimal,
demikian pula mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan maksimal baik bagi
pimpinan maupun para pekerja serta memberikan pelayanan yang sebaik mungkin
kepada masyarakat). Sedangkan menurut George F. Terry “Management is distinct process
consisting of planning, organizing, actuating, controlling, utilizing in each
both science and art and follow in order to accomplish predetermined objectives”
(Manajemen adalah proses yang khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian yang masing-masing bidang
tersebut digunakan baik ilmu pengetahuan maupun keahlian dan yang diikuti
secara berurutan dalam rangka usaha mencapai sasaran yang telah ditetapkan
semula). Hal yang sama diungkapkan oleh Skinner dan Ivancevich menyatakan bahwa “Management will be defined
as the application of planning, organizing, staffing, directing, and
controlling functions in the most efficient manner possible to accomplish
objectives” (Manajemen dapat didefinisikan sebagai penggunaan perencanaan, pengorganisasian,
pengerjaan, pengarahan, dan fungsi pengendalian dalam cara yang paling efisien
untuk mencapai sasaran). Kemudian Mary Parker Follet menyatakan bahwa definisi manajemen
sebagai seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini mengandung
arti bahwa para manajer mencapai tujuan-tujuan organisasi melalui pengaturan
orang-orang lain untuk melaksanakan berbagai tugas yang mungkin diperlukan atau
berarti dengan tidak melakukan tugas-tugas itu sendiri. Jadi, dari kesimpulan
pengertian diatas dapat ditarik dari kesamaan-kesamaan yang terdapat dalam
definisi diatas adalah bahwa:
1)
Manajemen selalu diterapkan dalam
hubungan dengan usaha suatu kelompok manusia dan tidak terdapat suatu usaha
seseorang tertentu.
2)
Dalam pengertian manajemen selalu
terkandung adanya sesuatu tujuan tertentu yang akan dicapai oleh kelompok yang
bersangkutan. Maka, secara singkat dapat dikatakan bahwa manajemen adalah
persoalan mencapai suatu tujuan tertentu dengan suatu kelompok orang.[4]
2.
Peranan Organisasi
Menurut Fattah[5]
bahwa istilah organisasi mempunyai dua pengertian umum, yaitu: Pertama, organisasi diartikan sebagai
suatu lembaga atau kelompok fungsional, misalnya sebuah perusahaan, sebuah
sekolah, sebuah perkumpulan, badan-badan pemerintahan. Kedua, merujuk pada proses pengorganisasian yaitu bagaimana
pekerjaan diatur dan dialokasikan diantara para anggota, sehingga tujuan
organisasi itu dapat tercapai secara efektif. Sedangkan organisasi itu sendiri
diartikan sebagai kumpulan orang dengan sistem kerja sama untuk mencapai tujuan
bersama. Menurut Chester I. Barnard menyatakan bahwa organisasi mengandung tiga
elemen, yaitu: kemampuan untuk bekerja sama, tujuan yang ingin dicapai dan
komunikasi[6]. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
agar diperoleh bentuk struktur organisasi yang efisien, yaitu:
1. Adanya
spesialisasi dan pembagian pekerjaan.
2. Adanya
pendelegasian wewenang yang jelas
3. Adanya
rentang kendali yang sesuai dengan kemampuan supervisi seseorang
4. Adanya
proses pendelegasian dan pengintegrasian.
5. Adanya
unsur lini dan staff. Pelaksanaan,
3.
Unsur-Usur
manajemen
Menurut George R Terry dalam bukunya Prinsiple of
management mengatakan, ada enam Sumber daya pokok dari manajemen, yaitu : men and women, materials, machines, methods,
money.
Dari Pendapat diatas menunjukkan bahwa manusia
merupakan unsur manajemen yang pokok. Manusia tidak dapat disamakan dengan benda, ia
mempunya peranan, pikiran, harapan serta gagasan. Reakasi psikisnya terhadap
keadaan sekeliling dapat menimbukan pengaruh yang lebih jauh dan mendalam serta
sukar untuk diperhitungkan secara seksama. Oleh karena itu, manusia perlu
senantiasa diperhatikan untuk dikembangkan kearah yang positif sesuai dengan
martabat dan kepribadiannya sebagai manusia.[7]
4. Ciri-Ciri profesionalisme
Edgar H. Schein dan Borje O.Saxberg dalam stoner
James A.F dan Charles Wankel merusmuskan
ciri-ciri orang professional sebagai berikut
a. Orang-orang
yang professional mendasarkan keputusannya pada prinsip-prinsip umum sehingga
banyaknya kursus dan program latihan manajemen menunjukkan bahwa
prinsip-prinsip manajemen dapat dipercaya dan digunakan sebaagai patokan
khusus.
b. Orang-orang
profesinal mencapai status profesionalnya melalui prestasi, bukan melalui
favoritism atau factor lain yang tidak berhubungan dengan pekerjaan. Walaupun belum ada stantar
obyektif yang disepakati untuk menilai prestasi manejerial.
c. Orang-orang
professional harus tunduk pada kode etik yang melindungi kliennya. Namun karena
keprofesionalan pada bidang khusus, sering kali klien terlalu berharap padanya
dan sebagai akibatnya, manajer berada dalam posisi yang rawan.
d. Borje
O. Saxberg menyarankan karakteristik yang keempat dari profesionalisme yaitu
pengabdian (dedication) dan keterikatan (commitment) sehingga dalam setiap
bidang orang profesioanal menggabungkan hidup dan pekerjaannya melalui
pengabdian dan keterikatan pribadinya.[8]
5.
Tingkatan-tingkatan
manejemen
Pada dasarnya dalam setiap organisasi terdapat dua
kelompok besar manusia, yaitu para karyawan yang bertugas untuk melaksanakan
kegitan-kegitan operasional disebut rank
and file atau karyawan dan mereka
yang tergolong kelompok pimpinan. Kelompok pimpinan terdiri atas pimpinan
tinggi (Top manajemen), pimpinan menengah (middle manajemen) dan pimpinan
rendah (lower manajemen) ketiga tingkatan manajemen ini menunjukkan bahwa
semakin bawah semakin banyak jumlah orangnya.[9]
6. Fungsi manajemen
Menurut Skinner merumuskan bahwa fungsi manajemen
meliputi : perencanaan (planning), pengorganisasian
(organizing), pengerjaan (staffing), pengarahan (directing), pengendalian (controlling). Sedangkan
menurut Stephen P. Robbin merumuskan
bahwa fungsi manajemen meliputi: perencaan
(planning), pengorganisasian (organizing), memimpin
(leading), dan pengendalian
(controlling). Hal yang senada juga diungkapkan oleh Fattah yang menyebutkan
bahwa kegiatan manajerial meliputi banyak aspek, namun aspek utama dan esensial
yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating) dan pengawasan (controlling). Perencanaan
adalah proses dasar dimana manajemen memutuskan tujuan dan cara mencapainya.
Semua kegiatan perencanaan pada dasarnya melalui empat tahap berikut ini :
Tahap pertama, adalah menetapkan
tujuan atau serangkaian tujuan. Perencanaan dimulai dengan keputusan-keputusan tentang
keinginan atau kebutuhan organisasi atau kelompok kerja. Tanpa rumusan tujuan
yang jelas, organisasi akan menggunakan sumber dayanya secara tidak efektif.
Tahap kedua, merumuskan keadaan saat
ini. Pemahaman akan posisi sekarang dari tujuan yang hendak dicapai atau sumber
daya-sumber daya yang tersedia untuk pencapaian tujuan, adalah sangat penting,
karena tujuan dan rencana menyangkut waktu yang akan datang. Hanya setelah
keadaan saat ini dianalisa, rencana dapat dirumuskan untuk menggambarkan
rencana kegiatan lebih lanjut. Tahap kedua ini memerlukan informasi yang
didapatkan melalui komunikasi dalam organisasi. Tahap ketiga, mengidentifikasikan segala kemudahan dan hambatan. Segala
kekuatan dan kelemahan serta kemudahan dan hambatan perlu diidentifikasikan
untuk mengukur kemampuan organisasi dalam mencapai tujuan. Oleh karena itu
perlu diketahui faktor-faktor lingkungan intern dan ekstern yang dapat membantu
organisasi mencapai tujuannya, atau yang mungkin menimbulkan masalah. Walaupun
sulit dilakukan, antisipasi keadaan, masalah, dan kesempatan serta ancaman yang
mungkin terjadi diwaktu mendatang adalah bagian esensi dari proses perencanaan.
Tahap keempat, adalah mengembangkan
rencana atau serangkaian kegiatan untuk pencapaian tujuan. Tahap terakhir dalam
proses perencanaan meliputi pengembangan berbagai alternatif kegiatan untuk
pencapaian tujuan, penilaian alternative-alternatif tersebut dan pemilihan
alternatif terbaik (paling memuaskan) diantara berbagai alternatif yang ada. Mencermati
pandangan di atas, maka ada 2 alasan dasar perlunya perencanaan. Perencanaan
dilakukan untuk mencapai: Pertama,
“protective benevits” yang dihasilkan dari pengurangan kemungkinan terjadinya kesalahan
dalam pembuatan keputusan. Kedua, “positive
benevits” dalam bentuk meningkatnya sukses pencapaian tujuan organisasi. Lebih lanjut Menurut Handoko mengatakan bahwa perencanaan
mempunyai banyak manfaat. Sebagai contoh, perencanaan :
1. Membantu
manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan perubahan lingkungan,
2. Membantu
dalam kristalisasi persesuaian pada masalah-masalah utama,
3. Memungkinkan
manajer memahami keseluruhan gambaran operasi lebih jelas
4. Membantu
menempatkan tanggung jawab lebih tepat,
5. Memberikan
cara pemberian perintah untuk beroperasi,
6. Memudahkan
dalam melakukan koordinasi diantara berbagai bagian organisasi,
7. Membuat
tujuan lebih khusus, terperinci dan lebih mudah difahami,
8. Meminimumkan
pekerjaan yang tidak pasti
9. Menghemat
waktu usaha dan dana. [10]
2.
Peranan
Manajemen Dalam Pendidikan Islam
Lembaga pendidikan,
dalam bahasa Inggris disebut institute (berbentuk fisik), yaitu sarana atau
organisasi untuk mencapai tujuan tertentu, dan lembaga dalam pengertian
non-fisik atau abstrak disebut institution yaitu suatu sistem norma untuk
memenuhi kebutuhan. Lembaga dalam bentuk fisik disebut juga bangunan, sedangkan
non-fisik disebut pranata. Secara terminologi, lembaga pendidikan Islam menurut
Hasan Langgulung adalah sustu sistem peraturan yang bersifat mujarrad, suatu konsepsi yang terdiri
dari kode-kode, norma-norma, idiologi-idiologi dan sebagainya, baik tertulis
atau tidak, termasuk perlengkapan material dan organisasi simbolik: kelompok
manusia yang terdiri dari individu-individu yang dibentuk dengan sengaja atau
tidak, untuk mencapai tujuan tertentu dan tempat-tempat kelompok itu
melaksanakan peraturan-peraturan tersebut adalah lembaga pendidikan Islam.
Dengan demikian, untuk
menerapkan pendidikan Islam perlu suatu
lembaga dan lembaga tersebut harus terorganisir sedemikian rupa sehingga tujuan pendidikan Islam dapat
dicapai secara efektif dan efisien. Tegasnya, diperlukan organisasi lembaga
pendidikan yang profesional. Berbicara
tentang lembaga pendidikan Islam, dapat dilihat dari segi proses
pembentukannya, yaitu formal, nonformal, dan informal. Akan tetapi, lembaga
pendidikan Islam dalam bentuk institute biasanya dikelola oleh lembaga
Departemen Agama dimana di dalamnya terdapat lembaga pendidikan formal dan
nonformal.
Pendidikan Islam
dipetakan ke dalam tiga jenis pendidikan, yaitu pendidikan agama Islam pada
satuan pendidikan, pendidikan umum berciri Islam, dan pendidikan keagamaan
Islam. Pendidikan Islam pada satuan pendidikan dilakukan melalui koordinasi
antara Ditjen Pendidikan Islam Departemen Agama dan Departemen Pendidikan
Nasional (Depdiknas). Sekolah/Madrasah, sebagai lembaga pendidikan formal yang
di dalamnya terdapat kepala sekolah, guru-guru, pegawai tata usaha, siswa, dan
sebagainya memerlukan adanya organisasi yang baik agar tujuannya dapat dicapai.
Menurut sistem persekolah di negeri kita, pada umumnya Kepala Sekolah/Madrasah
merupakan jabatan yang tertinggi di sekolah itu sehingga dengan demikian kepala
sekolah memegang peranan dan pimpinan segala sesuatunya yang berhubungan dengan
tugas sekolah/medrasah ke dalam maupun ke luar. Maka dari itu dalam struktur
organisasi lembaga ini pun kepala sekolah biasanya selalui ditempatkan yang paling
atas.
Faktor lain yang
menyebabkan perlunya organisasi sekolah/madrasah yang baik ialah karena tugas
guru-guru tidak hanya mengajar saja, juga pegawai-pegawai tata usaha, pesuruh
sekolah, dan sebagainya semuanya harus bertanggung jawab dan diikutsertakan
dalam menjalankan roda organisasi itu
secara keseluruhan. Dengan demikian, agar tidak overlapping dalam memegang/menjalankan tugasnya masing-masing, diperlukan
organisasi sekolah/madrasah yang baik dan teratur. Sebagai organisasi, sekolah
atau madrasah tersebut tentu memiliki visi dan misi tertentu dengan mengacu
kepada nilai-nilai ajaran Islam. Kemudian di dalamnya terdapat struktur
organisasi yang dipimpin oleh seorang kepala sekolah/madrasah dan dibantu oleh
beberapa orang wakil, seperti wakil bidang kurikulum, wakil bidang sarana
prasarana, dan wakil bidang kesiswaan. Para guru juga diorganisir sesuai dengan
kebutuhan, seperti wali kelas, koordinator masing-masing mata pelajaran,
pembina OSIS, dan sebagainya. Adapun
sistem penanggung jawab lembaga tersebut awalnya bersifat sentralistik. Namun
dewasa ini, seiring dengan otonomi daerah, sistem sentralistik secara berlahan
mulai berubah ke arah desentralistik, meskipun belum sepenuhnya, khususnya di
lingkungan Departemen Agama.
Mengenai pengelolaan
madrasah/pesantren di lingkungan Departemen Agama yang masih bersifat
sentralistik memiliki kelebihan dan kekurangan. Lembaga pendidikan formal di
bawah Departemen Agama seperti Madrasah cenderung hanya memperoleh anggaran
biaya dari Departemen Agama pusat dan terkesan kurang perhatian dari pemerintah
daerah. Padahal madrasah juga berperan dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat
lokal di tingkat daerah tersebut. Meskipun demikian, ada juga pemerintah daerah
yang menganggarkan biaya untuk madrasah tersebut, sesuai dengan kebijakan
masing-masing pemerintah daerah. Kebijakan ini tentu terkait dengan besarnya
APBD yang dimilikinya.
Namun, yang menjadi
persoalan berikutnya adalah madrasah yang memperoleh dana cukup dari departemen
agama tersebut justru lebih terfokus kepada madrasah negeri, sementara madrasah
swasta kurang mendapat perhatian. Padahal, jumlah madrasah swasta jauh lebih
banyak dari pada madrasah negeri. Akhirnya, madrasah swasta yang memperoleh
"penghidupan" dari masyarakat setempat cenderung mengalami kesulitan
dalam merancang dan melaksanakan program pendidikan yang berkualitas.
Menyikapi persoalan di
atas, seharusnya pemerintah daerah mengambil kebijakan yang proporsional (adil)
terhadap pembangunan dan pengembangan lembaga pendidikan Islam, seperti madrasah
dan pesantren. Sebab, madrasah dan pesantren juga berperan besar dalam
mencerdaskan masyarakat di tingkat daerah tersebut. Meskipun madrasah dikelola
secara sentralistik, akan tetapi pemerintah daerah perlu menganalisis
perbandingan antara anggaran yang diperoleh madrasah dengan anggaran yang
diperoleh sekolah umum. Jika APBD di tingkat daerah memang relatif kecil, maka
diharapkan pemerintah dapat memotivasi masyarakat untuk berperan aktif dalam
membangun lembaga pendidikan di daerah tersebut, baik umum maupun lembaga
pendidikan Islam. Oleh karena itu, dibutuhkan koordinasi yang baik lagi
harmonis antara departemen agama dengan dinas pendidikan dari pusat hingga di
tingkat daerah kota/kabupaten, termasuk dengan pemerintah daerah. Dengan begitu
diharapkan pengelolaan organisasi lembaga pendidikan Islam dilakukan secara
profesional sehingga bermutu dan mampu bersaing di tingkat global.[11]
BAB III
KESIMPULAN
Dari
pembahasan makalah diatas penulis dapat menyimpulkan
1. Adapun
Ruang lingkup manajemen antara lain, Pengetian manajemen, Peranan organisasi,
unsur-unsur manajemen, cirri-ciri profesionalisme, tingkatan-tingkatan
manajemen, dan fungsi-fungsi manajemen.
2.
Peranan
manejemen dalam pendidikan Islam adalah pengorganisasian lembaga pendidikan islam
sesuai dengan Visi dan misi tertentu dengan mengacu kepada nilai-nilai ajaran Islam.
DAFTARPUSTAKA
Fattah, Nanang, Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung:
Remaja Rosda Karya. 1999
Nasution.M.N.. Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality
Management). Jakarta : Ghalia Indonesia. 2001.
Nawawi, Hadari, Administrasi Pendidikan Jakarta : Gunung
Agung, 1995
M.
Herujito, Yayat, Dasar-Dasar Manajemen,
Jakarta:PT Grasindo, 2001.
Schuler,
Randall.S dan Susan E.Jackson, Manajemen Sumber Daya Manusia (Menghadapi
Abad Ke-21,) Jakarta : Erlangga Jilid 1. 1997.
Poerwanto,
Ngalim, Administrasi Pendidikan,
Jakarta : Mutiara Sumber Widya, 1988.
Winardi,
J., Teori Organisasi dan Pengorganisasian,
Jakarta: Rajawali Press, 2006.
www.suryantara.
wordpress. Com
http://www. kherysudeska.blogspot.com.
RUANG LINGKUP MANAJEMEN
PENDIDIKAN ISLAM
MAKALAH
Tugas
Ini Untuk Memenuhi Mata Kuliah Manajemen Pendidikan Islam
Dosen Pembimbing :
Prof.
Dr. H. Baharuddin, M.PdI

Disusun
oleh :
Edy
Sutrisno
(NIM.
09770004)
JURUSAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
PROGRAM
PASCASARJANA
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI (UIN)
MAULANA
MALIK IBRAHIM MALANG
2009
0 komentar:
Poskan Komentar