Senin, 31 Oktober 2011

Ruang Lingkup Manajemen Pendidikan Islam


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Manajemen merupakan salah satu komponen vital sebuah lembaga pendidikan  maupun institusi-institusi yang lain. Mekanisme manajemen yang jelek akan sangat berpengaruh terhadap mutu atau out-putnya. Pendidikan dapat dikatakan berkualitas jika berhasil menelorkan out-put atau lulusan yang sesuai dengan tujuan atau cita-cita pendidikan itu sendiri, sedangkan untuk merealisasikan tujuan pendidikan dalam  proses pendidikannya banyak kendala yang dihadapi oleh manajer dalam hal ini adalah kepala sekolah. Untuk mencapai tujuan tersebut secara efektif dan efisien, maka diperlukan diantaranya adanya manajemen yang professional. Dengan melaksanakan manajemen  pendidikan tersebut, secara professional diharapkan untuk dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Selain kondisi sekolah yang masih dalam tahap perkembangan, sementara itu lingkungan sudah mulai masuk dalam bentuk kehidupan yang mulai modern, maka tuntutan masyarakatpun semakin kompleks. Lemahnya kualitas pendidikan seringkali disebabkan oleh lemahnya peran manajemen dan pengelolaan pendidikan secara keseluruhan.. Berdasarkan  uraian di atas, untuk mengantisipasi problem yang berkelanjutan dalam bidang pendidikan, dibutuhkan pembenahan-pembenahan terhadap semua unsur yang ada, termasuk pembenahan dalam bidang manajemennya. Dalam rangka untuk memotivasi pengembangan aspek managerial pendidikan.
Pendidikan merupakan sebuah proses dan sekaligus sistem yang bermuara dan berujung pada pencapaian suatu kualitas manusia tertentu yang dianggap dan diyakini sebagai yang ideal. Dalam tata kehidupan yang berkembang semakin rumit, proses dan sistem pendidikan  sukar berjalan dengan mulus, karena terkait dengan persoalan demi persoalan yang siap menghadang lajunya proses pencapaian tujuan pendidikan. Rangkaian kejadian-kejadian di sekitar, yang bersifat lokal sampai yang bersifat global yang merefleksikan kualitas manusia di bawah standar ideal,  merupakan bukti ketidakmulusan proses dan sistem  pendidikan. Bahkan persoalan-persoalan yang selalu timbul menjadi bom waktu yang setiap saat siap meledak dan menghancurkan sistem pendidikan kapan saja. Kita memang harus prihatin dengan kenyataan yang ada, namun  itu saja tidak cukup, tentunya harus disertai dengan menanggapi persoalan-persoalan pendidikan yang timbul. Namun yang pasti diharapkan tumbuhnya suatu kreatifitas yang secara terus menerus berusaha mengembangkan sistem pendidikan.  Agar suatu sistem dapat bekerja dengan baik, dibutuhkan adanya perencanaan dan pengorganisasian yang baik dan teratur. Semua manusia yang terlibat didalamnya harus terorganisasi melalui perencanaan terlebih dahulu sehingga mereka mempunyai tanggung jawab dan wewenang serta hak dan kewajiban, sesuai dengan kedudukan dan fungsinya masing-masing. Dengan  manajemen yang baik, tentunya akan menghasilkan tujuan-tujuan yang diharapkan.  Sedangkan manajemen adalah proses untuk menyelenggarakan dan mengawasi suatu tujuan tertentu. Setiap sistem pasti memiliki tujuan, dana semua kegiatan dari komponen-komponen atau bagian-bagiannya adalah diarahkan untuk menuju tercapainya tujuan tersebut. Dari latar belakang inilah penulis akan membahas hal-hal yang terkait dengan ruang lingkup manajemen pendidikan Islam.
a.      Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah ruang lingkup manajemen pendidkan Islam?
2.      Bagaimanakah peranan manajemen dalam pendidkan Islam?
b.      Tujuan
1.      Untuk mengetahui ruang lingkup manajemen pendidikan Islam
2.      Untuk mengetahui peranan manajemen dalam pendidikan Islam






BAB II
KAJIAN TEORITIS
A.    Ruang lingkup Manajemen Pendidikan Islam
1.      Penegertian Manajemen
            Istilah  manajemen berasal dari kata to manage berarti control. Dalam bahasa Indonesia dapat diartikan  mengendalikan, menangani atau  mengelola.[1]  Sedangkan Management berasal dari kata latin yaitu “manus” yang artinya “to control by hand” atau  “gain result”. Manajemen dapat didefinisikan sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, pengisian staf, pemimpinan, dan  pengontrolan untuk optimasi penggunaan sumber-sumber dan pelaksanaan tugas-tugas dalam mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien.[2]
Selanjudnya, kata benda manajemen atau management dapat mempunyai berbagai arti. Pertama,  sebagai pengelolaan, pengendalian atau penanganan (managing). Kedua,  perlakuan secara terampil untuk menangani sesuatu berupa skillful treatmen. Ketiga, gabungan dari dua pengertian tersebut, yaitu yang berhubungan dengan pengelolaan suatu perusahaan, rumah tangga atau suatu bentuk kerja sama dalam mencapai suatu tujuan tertentu.
Tiga pengertian itu mendukung kesepakatan anggapan bahwa manajemen dapat dipandang sebagai ilmu dan seni. Luther Gulick mengatakan  Manajemen sering diartikan sebagai ilmu, kiat/seni, dan profesi.  manajemen sebagai ilmu, karena manajemen dipandang sebagai suatu bidang pengetahuan yang secara sistematik berusaha memahami mengapa dan bagaimana orang bekerjasama. Sebagai kiat/seni, karena manajemen  mencapai sasaran melalui cara-cara dengan mengatur orang lain menjalankan dalam tugas. Disisi lain manajemen, dipandang sebagai profesi karena manajemen dilandasi oleh keahlian khusus untuk mencapai suatu prestasi manajer, dan para profesional dituntut oleh suatu kode untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelumnya.[3]
Istilah manajemen berhubungan dengan usaha untuk tujuan tertentu dengan jalan menggunakan sumber-sumber daya yang tersedia dalam organisasi dengan cara yang sebaik mungkin. Setiap organisasi selalu membutuhkan manajemen karena tanpa manajemen yang efektif tak akan ada usaha yang berhasil cukup lama. Manajemen akan memberikan efektivitas pada usaha manusia. Untuk memperjelas arti manajemen, dibawah ini kutipan pendapat beberapa pakar dibidang manajemen,  pendapat yang satu dapat berbeda dengan yang lain walaupun terdapat unsur kesamaannya. Dari perbedaan-perbedaan pendapat (yang disebabkan karena perbedaan dalam menentukan titik berat sudut pandang) serta kesamaan-kesamaan itu diharapkan dapat diperoleh pandangan yang jelas dan menyeluruh tentang manajemen. Manajemen sering diartikan sebagai ilmu, kiat/seni dan profesi. Menurut John F. Mee menyatakan bahwa manajemen adalah “ Management is the art of securing maximum result with minimum of efforts as to secure maximum prosperity and happiness for both employer and employee and give the public the best posible service” ( Manajemen adalah seni untuk mencapai hasil yang maksimal dengan usaha yang minimal, demikian pula mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan maksimal baik bagi pimpinan maupun para pekerja serta memberikan pelayanan yang sebaik mungkin kepada masyarakat). Sedangkan menurut George F. TerryManagement is distinct process consisting of planning, organizing, actuating, controlling, utilizing in each both science and art and follow in order to accomplish predetermined objectives” (Manajemen adalah proses yang khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian yang masing-masing bidang tersebut digunakan baik ilmu pengetahuan maupun keahlian dan yang diikuti secara berurutan dalam rangka usaha mencapai sasaran yang telah ditetapkan semula). Hal yang sama diungkapkan oleh Skinner dan Ivancevich  menyatakan bahwa “Management will be defined as the application of planning, organizing, staffing, directing, and controlling functions in the most efficient manner possible to accomplish objectives” (Manajemen dapat didefinisikan sebagai penggunaan perencanaan, pengorganisasian, pengerjaan, pengarahan, dan fungsi pengendalian dalam cara yang paling efisien untuk mencapai sasaran). Kemudian Mary Parker Follet menyatakan bahwa definisi manajemen sebagai seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini mengandung arti bahwa para manajer mencapai tujuan-tujuan organisasi melalui pengaturan orang-orang lain untuk melaksanakan berbagai tugas yang mungkin diperlukan atau berarti dengan tidak melakukan tugas-tugas itu sendiri. Jadi, dari kesimpulan pengertian diatas dapat ditarik dari kesamaan-kesamaan yang terdapat dalam definisi diatas adalah bahwa:
1)      Manajemen selalu diterapkan dalam hubungan dengan usaha suatu kelompok manusia dan tidak terdapat suatu usaha seseorang tertentu.
2)      Dalam pengertian manajemen selalu terkandung adanya sesuatu tujuan tertentu yang akan dicapai oleh kelompok yang bersangkutan. Maka, secara singkat dapat dikatakan bahwa manajemen adalah persoalan mencapai suatu tujuan tertentu dengan suatu kelompok orang.[4]
2.   Peranan Organisasi
Menurut Fattah[5] bahwa istilah organisasi mempunyai dua pengertian umum, yaitu: Pertama, organisasi diartikan sebagai suatu lembaga atau kelompok fungsional, misalnya sebuah perusahaan, sebuah sekolah, sebuah perkumpulan, badan-badan pemerintahan. Kedua, merujuk pada proses pengorganisasian yaitu bagaimana pekerjaan diatur dan dialokasikan diantara para anggota, sehingga tujuan organisasi itu dapat tercapai secara efektif. Sedangkan organisasi itu sendiri diartikan sebagai kumpulan orang dengan sistem kerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Menurut Chester I. Barnard menyatakan bahwa organisasi mengandung tiga elemen, yaitu: kemampuan untuk bekerja sama, tujuan yang ingin dicapai dan komunikasi[6]. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar diperoleh bentuk struktur organisasi yang efisien, yaitu:
1.      Adanya spesialisasi dan pembagian pekerjaan.
2.      Adanya pendelegasian wewenang yang jelas
3.      Adanya rentang kendali yang sesuai dengan kemampuan supervisi seseorang
4.      Adanya proses pendelegasian dan pengintegrasian.
5.      Adanya unsur lini dan staff. Pelaksanaan,
3.      Unsur-Usur manajemen
Menurut George R Terry dalam bukunya Prinsiple of management mengatakan, ada enam Sumber daya pokok dari manajemen, yaitu : men and women, materials, machines, methods, money.
Dari Pendapat diatas menunjukkan bahwa manusia merupakan unsur manajemen yang pokok.  Manusia tidak dapat disamakan dengan benda, ia mempunya peranan, pikiran, harapan serta gagasan. Reakasi psikisnya terhadap keadaan sekeliling dapat menimbukan pengaruh yang lebih jauh dan mendalam serta sukar untuk diperhitungkan secara seksama. Oleh karena itu, manusia perlu senantiasa diperhatikan untuk dikembangkan kearah yang positif sesuai dengan martabat dan kepribadiannya sebagai manusia.[7]
4.      Ciri-Ciri profesionalisme
Edgar H. Schein dan Borje O.Saxberg dalam stoner James A.F dan Charles Wankel  merusmuskan ciri-ciri orang professional sebagai berikut
a.  Orang-orang yang professional mendasarkan keputusannya pada prinsip-prinsip umum sehingga banyaknya kursus dan program latihan manajemen menunjukkan bahwa prinsip-prinsip manajemen dapat dipercaya dan digunakan sebaagai patokan khusus.
b.  Orang-orang profesinal mencapai status profesionalnya melalui prestasi, bukan melalui favoritism atau factor lain yang tidak berhubungan  dengan pekerjaan. Walaupun belum ada stantar obyektif yang disepakati untuk menilai prestasi manejerial.
c.       Orang-orang professional harus tunduk pada kode etik yang melindungi kliennya. Namun karena keprofesionalan pada bidang khusus, sering kali klien terlalu berharap padanya dan sebagai akibatnya, manajer berada dalam posisi yang rawan.
d.  Borje O. Saxberg menyarankan karakteristik yang keempat dari profesionalisme yaitu pengabdian (dedication) dan keterikatan (commitment) sehingga dalam setiap bidang orang profesioanal menggabungkan hidup dan pekerjaannya melalui pengabdian dan keterikatan pribadinya.[8]
5.      Tingkatan-tingkatan manejemen
Pada dasarnya dalam setiap organisasi terdapat dua kelompok besar manusia, yaitu para karyawan yang bertugas untuk melaksanakan kegitan-kegitan operasional disebut rank and file atau karyawan dan mereka yang tergolong kelompok pimpinan. Kelompok pimpinan terdiri atas pimpinan tinggi (Top manajemen), pimpinan menengah (middle manajemen) dan pimpinan rendah (lower manajemen) ketiga tingkatan manajemen ini menunjukkan bahwa semakin bawah semakin banyak jumlah orangnya.[9]
6.      Fungsi manajemen
Menurut Skinner merumuskan bahwa fungsi manajemen meliputi : perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengerjaan (staffing), pengarahan (directing), pengendalian (controlling). Sedangkan menurut Stephen P. Robbin merumuskan bahwa fungsi manajemen meliputi: perencaan (planning),  pengorganisasian (organizing), memimpin (leading), dan pengendalian (controlling). Hal yang senada juga diungkapkan oleh Fattah  yang menyebutkan bahwa kegiatan manajerial meliputi banyak aspek, namun aspek utama dan esensial yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating) dan pengawasan (controlling). Perencanaan adalah proses dasar dimana manajemen memutuskan tujuan dan cara mencapainya. Semua kegiatan perencanaan pada dasarnya melalui empat tahap berikut ini : Tahap pertama, adalah menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan. Perencanaan dimulai dengan keputusan-keputusan tentang keinginan atau kebutuhan organisasi atau kelompok kerja. Tanpa rumusan tujuan yang jelas, organisasi akan menggunakan sumber dayanya secara tidak efektif. Tahap kedua, merumuskan keadaan saat ini. Pemahaman akan posisi sekarang dari tujuan yang hendak dicapai atau sumber daya-sumber daya yang tersedia untuk pencapaian tujuan, adalah sangat penting, karena tujuan dan rencana menyangkut waktu yang akan datang. Hanya setelah keadaan saat ini dianalisa, rencana dapat dirumuskan untuk menggambarkan rencana kegiatan lebih lanjut. Tahap kedua ini memerlukan informasi yang didapatkan melalui komunikasi dalam organisasi. Tahap ketiga, mengidentifikasikan segala kemudahan dan hambatan. Segala kekuatan dan kelemahan serta kemudahan dan hambatan perlu diidentifikasikan untuk mengukur kemampuan organisasi dalam mencapai tujuan. Oleh karena itu perlu diketahui faktor-faktor lingkungan intern dan ekstern yang dapat membantu organisasi mencapai tujuannya, atau yang mungkin menimbulkan masalah. Walaupun sulit dilakukan, antisipasi keadaan, masalah, dan kesempatan serta ancaman yang mungkin terjadi diwaktu mendatang adalah bagian esensi dari proses perencanaan. Tahap keempat, adalah mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk pencapaian tujuan. Tahap terakhir dalam proses perencanaan meliputi pengembangan berbagai alternatif kegiatan untuk pencapaian tujuan, penilaian alternative-alternatif tersebut dan pemilihan alternatif terbaik (paling memuaskan) diantara berbagai alternatif yang ada. Mencermati pandangan di atas, maka ada 2 alasan dasar perlunya perencanaan. Perencanaan dilakukan untuk mencapai: Pertama, “protective benevits” yang dihasilkan dari pengurangan kemungkinan terjadinya kesalahan dalam pembuatan keputusan. Kedua, “positive benevits” dalam bentuk meningkatnya sukses pencapaian tujuan organisasi.  Lebih lanjut Menurut Handoko mengatakan bahwa perencanaan mempunyai banyak manfaat. Sebagai contoh, perencanaan :
1.      Membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan perubahan lingkungan,
2.      Membantu dalam kristalisasi persesuaian pada masalah-masalah utama,
3.      Memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran operasi lebih jelas
4.      Membantu menempatkan tanggung jawab lebih tepat,
5.      Memberikan cara pemberian perintah untuk beroperasi,
6.      Memudahkan dalam melakukan koordinasi diantara berbagai bagian organisasi,
7.      Membuat tujuan lebih khusus, terperinci dan lebih mudah difahami,
8.      Meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti
9.      Menghemat waktu usaha dan dana. [10]

2.      Peranan Manajemen Dalam Pendidikan Islam
Lembaga pendidikan, dalam bahasa Inggris disebut institute (berbentuk fisik), yaitu sarana atau organisasi untuk mencapai tujuan tertentu, dan lembaga dalam pengertian non-fisik atau abstrak disebut institution yaitu suatu sistem norma untuk memenuhi kebutuhan. Lembaga dalam bentuk fisik disebut juga bangunan, sedangkan non-fisik disebut pranata. Secara terminologi, lembaga pendidikan Islam menurut Hasan Langgulung adalah sustu sistem peraturan yang bersifat mujarrad, suatu konsepsi yang terdiri dari kode-kode, norma-norma, idiologi-idiologi dan sebagainya, baik tertulis atau tidak, termasuk perlengkapan material dan organisasi simbolik: kelompok manusia yang terdiri dari individu-individu yang dibentuk dengan sengaja atau tidak, untuk mencapai tujuan tertentu dan tempat-tempat kelompok itu melaksanakan peraturan-peraturan tersebut adalah lembaga pendidikan Islam.
Dengan demikian, untuk menerapkan  pendidikan Islam perlu suatu lembaga dan lembaga tersebut harus terorganisir sedemikian  rupa sehingga tujuan pendidikan Islam dapat dicapai secara efektif dan efisien. Tegasnya, diperlukan organisasi lembaga pendidikan yang profesional. Berbicara tentang lembaga pendidikan Islam, dapat dilihat dari segi proses pembentukannya, yaitu formal, nonformal, dan informal. Akan tetapi, lembaga pendidikan Islam dalam bentuk institute biasanya dikelola oleh lembaga Departemen Agama dimana di dalamnya terdapat lembaga pendidikan formal dan nonformal.
Pendidikan Islam dipetakan ke dalam tiga jenis pendidikan, yaitu pendidikan agama Islam pada satuan pendidikan, pendidikan umum berciri Islam, dan pendidikan keagamaan Islam. Pendidikan Islam pada satuan pendidikan dilakukan melalui koordinasi antara Ditjen Pendidikan Islam Departemen Agama dan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Sekolah/Madrasah, sebagai lembaga pendidikan formal yang di dalamnya terdapat kepala sekolah, guru-guru, pegawai tata usaha, siswa, dan sebagainya memerlukan adanya organisasi yang baik agar tujuannya dapat dicapai. Menurut sistem persekolah di negeri kita, pada umumnya Kepala Sekolah/Madrasah merupakan jabatan yang tertinggi di sekolah itu sehingga dengan demikian kepala sekolah memegang peranan dan pimpinan segala sesuatunya yang berhubungan dengan tugas sekolah/medrasah ke dalam maupun ke luar. Maka dari itu dalam struktur organisasi lembaga ini pun kepala sekolah biasanya selalui ditempatkan yang paling atas.
Faktor lain yang menyebabkan perlunya organisasi sekolah/madrasah yang baik ialah karena tugas guru-guru tidak hanya mengajar saja, juga pegawai-pegawai tata usaha, pesuruh sekolah, dan sebagainya semuanya harus bertanggung jawab dan diikutsertakan dalam menjalankan  roda organisasi itu secara keseluruhan. Dengan demikian, agar tidak overlapping dalam  memegang/menjalankan tugasnya masing-masing, diperlukan organisasi sekolah/madrasah yang baik dan teratur. Sebagai organisasi, sekolah atau madrasah tersebut tentu memiliki visi dan misi tertentu dengan mengacu kepada nilai-nilai ajaran Islam. Kemudian di dalamnya terdapat struktur organisasi yang dipimpin oleh seorang kepala sekolah/madrasah dan dibantu oleh beberapa orang wakil, seperti wakil bidang kurikulum, wakil bidang sarana prasarana, dan wakil bidang kesiswaan. Para guru juga diorganisir sesuai dengan kebutuhan, seperti wali kelas, koordinator masing-masing mata pelajaran, pembina OSIS, dan sebagainya. Adapun sistem penanggung jawab lembaga tersebut awalnya bersifat sentralistik. Namun dewasa ini, seiring dengan otonomi daerah, sistem sentralistik secara berlahan mulai berubah ke arah desentralistik, meskipun belum sepenuhnya, khususnya di lingkungan Departemen Agama.
Mengenai pengelolaan madrasah/pesantren di lingkungan Departemen Agama yang masih bersifat sentralistik memiliki kelebihan dan kekurangan. Lembaga pendidikan formal di bawah Departemen Agama seperti Madrasah cenderung hanya memperoleh anggaran biaya dari Departemen Agama pusat dan terkesan kurang perhatian dari pemerintah daerah. Padahal madrasah juga berperan dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat lokal di tingkat daerah tersebut. Meskipun demikian, ada juga pemerintah daerah yang menganggarkan biaya untuk madrasah tersebut, sesuai dengan kebijakan masing-masing pemerintah daerah. Kebijakan ini tentu terkait dengan besarnya APBD yang dimilikinya.
Namun, yang menjadi persoalan berikutnya adalah madrasah yang memperoleh dana cukup dari departemen agama tersebut justru lebih terfokus kepada madrasah negeri, sementara madrasah swasta kurang mendapat perhatian. Padahal, jumlah madrasah swasta jauh lebih banyak dari pada madrasah negeri. Akhirnya, madrasah swasta yang memperoleh "penghidupan" dari masyarakat setempat cenderung mengalami kesulitan dalam merancang dan melaksanakan program pendidikan yang berkualitas.
Menyikapi persoalan di atas, seharusnya pemerintah daerah mengambil kebijakan yang proporsional (adil) terhadap pembangunan dan pengembangan lembaga pendidikan Islam, seperti madrasah dan pesantren. Sebab, madrasah dan pesantren juga berperan besar dalam mencerdaskan masyarakat di tingkat daerah tersebut. Meskipun madrasah dikelola secara sentralistik, akan tetapi pemerintah daerah perlu menganalisis perbandingan antara anggaran yang diperoleh madrasah dengan anggaran yang diperoleh sekolah umum. Jika APBD di tingkat daerah memang relatif kecil, maka diharapkan pemerintah dapat memotivasi masyarakat untuk berperan aktif dalam membangun lembaga pendidikan di daerah tersebut, baik umum maupun lembaga pendidikan Islam. Oleh karena itu, dibutuhkan koordinasi yang baik lagi harmonis antara departemen agama dengan dinas pendidikan dari pusat hingga di tingkat daerah kota/kabupaten, termasuk dengan pemerintah daerah. Dengan begitu diharapkan pengelolaan organisasi lembaga pendidikan Islam dilakukan secara profesional sehingga bermutu dan mampu bersaing di tingkat global.[11]









BAB III
KESIMPULAN

Dari pembahasan makalah diatas penulis dapat menyimpulkan

1. Adapun Ruang lingkup manajemen antara lain, Pengetian manajemen, Peranan organisasi, unsur-unsur manajemen, cirri-ciri profesionalisme, tingkatan-tingkatan manajemen, dan fungsi-fungsi manajemen.
2.

Jumat, 28 Oktober 2011


THE MIRACLE OF  SEDEKAH (KEAJAIBAN SEDEKAH)

A. Pengertian
Inti ajaran sedekah kalau merujuk pada beberapa temuan ilmu pengetahuan dan ajaran agama, sedikitnya ada tiga;[1]
Pertama, Sedekah merupakan perintah agar kita menjalin hubungan harmonis dengan  diri sendiri. Akan  harmonis juga hubungannya dengan orang lain dan dengan Tuhan. Tanda-tanda orang yang punya hubungan harmonis dengan dirinya yaitu orang itu mempunya kesimpulan positif tentang dirinya, punya kemampuan menyuruh dirinya untuk melakukan hal-hal yang berakibat baik pada dirinya dan punya kemampuan untuk melarang dirinya agar menghindari hal-hal yang berakibat negatif (self-control). Orang yang harmonis itu akan meraih prestasi yang terus meningkat dan akan terhindar dari stress. Kalau melihat penjelasan Al-Ghazali dalam Ihya’, tanda yang paling penting adalah syukur dan sabar. Syukur disini maksudnya adalah orang itu punya kesimpulan mental yang positif terhadap dirinya dan punya agenda riil untuk memperbaiki diri secara berkelanjutan. Sedangkan sabar artinya orang itu mampu menahan diri dari hal-hal yang berakibat buruk pada dirinya.
            Kedua, sedekah merupakan perintah agar kita mengharmoniskan hubungan dengan orang lain, dari mulai yang paling dekat. Kalau melihat penjelasan Al-Qur’an dan Hadist Nabi, kunci agar kita bisa membangun hubungan yang harmonis dengan orang lain itu ada tiga; punya ungkapan yang bagus, punya hati yang perduli, dan mengutamakan manfaat dalam mengambil keputusan yang terkait dengan hubungan.
            Dengan ketiga kunci itu maka seseorang akan membuka hubungan baru, menjaga hubungan yang sudah terbina, dan mudah mengatasi konflik yang merupakan konsekuensi alamiyah dari hubungan. Hanya saja perlu disadari bahwa ketiga hal ini baru bisa dilakukan oleh orang yang sudah sanggup menjalin hubungan secara harmonis dengan dirinya.
            Ketiga, sedekah adalah perintah agar kita menjalin hubungan harmonis dengan Tuhan. Kalau merujuk dalam Al-Qur’an, tanda yang paling penting untuk di ingat adalah ketika seseorang dapat memerankan secara seimbang antara sebagai khalifah dan sebagai hamba (abdun) dalam menghadapi hidup.
Sebagai khalifah seseorang merasa bertanggung jawab untuk memperbaiki dirinya, memperbaiki lingkunganannya atau realitasnya. Khalifah harus punya inisiatif, mengambil keputusan, dan melakukan perbaikan. Tugas khalifah adalah membangun atau memakmurkan. Dimensi kekhalifahan yang paling kecil adalah diri sendiri, kemudian makin meluas ke orang lain dalam arti banyak.
Sedangkan hamba berarti orang itu menyadari bahwa tugasnya adalah beribadah kepada Tuhan, merasa tidak punya kekuatan apa-apa tampa bantuan Tuhan, menyadari pentingnya berdoa, merasa apa yang didapatkannya bukan karena semata karena jerih payahnya sendiri atau karena keahliannya (melainkan karena ada ‘Tangan Tuhan” disitu, menyadari bahwa kekayaan itu adalah alat untuk hidup (ibadah), bukan tujuan hidup, dan lain-lain.
Jika kedua peranan itu dimainkan secara seimbang, maka hasilnya adalah sosok yang kreatif, inisiatif, logis, realistis, dinamis, tidak sedikit-sedikit ‘mengandalkan’ Tuhan untuk menyelesaikan masalah hidupnya, dan lain-lain. Namun tetap tawadlu, membenarkan kebaikan-kebaikan, dekat dengan Tuhan, tidak takabbur, tidak mudah putus asa atau kehilangan kendali emosi.

B. Keajaiban Sedekah
Adapun keajaiban sedekah baik yang terhimpun dalam Al-Qur’an Maupun Al- Hadist diantaranya adalah:
1.      Sedekah itu akan membuka kelapangan hidup seseorang
Kelapangan itu jika meminjam kata dari An-Ubaedy, Hidup yang lapang itu bukan semata hak orang-orang kaya. Banyak orang kaya yang hidupnya sempit. Jadi hidup yang lapang itu adalah adanya sumber solusi yang mudah didapat dan berakibat baik bagi orang itu sesuai dengan keadaannya masing-masing jika sosuli itu diambil.
Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. (QS. Ath-Thalaq: 7)
Supaya hidup kita lapang (dekat dengan sumber solusi yang kita butuhkan sesuai keadaan kita), maka al-Qur’an menyuruh kita berderma susuai keadaan kita. Berderma termasuk salah satu indikator penting ketaqwaan kita. Balasan dari ketaqwaan itu salah satunya adalah:
Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.(QS. Ath.-Thalaq : 4)
2.      Membuka berbagai pintu rezeki
Khalifah Ali pernah berpesan: “pancinglah rezeki dengan sedekah.” Rezeki adalah apa saja yang bisa kita gunakan. Rezeki ini netral. Karena itu ada rezeki halal dan rezeki yang tidak halal. Ada rezeki yang berbentuk materi dan ada rezeki dalam bentuk non materi.
Bertambahnya jumlah rezeki itu tidak selalu harus berupa rezeki yang bersifat materi, meskipun kita mungkin selalu menginginkan itu. Rezeki yang ditambah Tuhan bisa bentuknya materi dan bisa non materi, misalnya keberkahannya, kemanfaatannya, dan lain-lain. Memiliki keluarga yang sehat, harmonis, sejahtera, bahagia, dan lain-lain. Juga termasuk rezeki, memilki keturunan yang baik, anak yang cedas, sehat, dan selamat dari ancaman zaman seperti narkoba dan lain sebagainya.
Mengingat bahwa balasan bagi orang yang berderma itu bermacam-macam, maka Al-Qur’an menjelaskannya dengan ungkapan yang tidak definitive. Al-Qur’an menggunakan angka 700 yang menurut tradisi Arab di zaman dulu, angka itu digunakan untuk menyebut sesuatu yang tak terhingga, in bisa dilihat melalui ayat dibawah ini:
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Baqarah: 261)
3.      Menolak musibah, bala’ dan adzab,
Ketiga istilah tersebut bila dirinci adalah, musibah itu segala sesuatu yang dapat membuat seseorang menderita, baik penderitaan dalam bentuk jiwa, kehilangan harta benda, kehilangan sanak saudara, keluarga atau atau orang-orang tercinta dan lain-lain.
Musibah ini bersifat umum, dalam artian bisa mengenai orang yang baik . Sebab-sebabnya ada yang karena ulah manusia secara langsung atau tidak langsung. Kalau dalam sebuah masyarakat itu ada kelompok orang yang mengeksploitasi hutannya secara besar-besaran, maka banjir yang akan melanda kawasan itu berlaku umum.
Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Al-Baqarah: 155)
Sedangkan bala’ adalah ujian yang diberikan kepada yang sedang memperjuangkan kebaikan, baik untuk dirinya ataupun orang lain. Bentuknya antara lain adalah kegagalan, kekurangan, penolakan, perlawanan, dan lain-lain. Bala’ ini bertujuan untuk menguji apakah kita serius atau tidak dalam perjuangan kita.
Dan Sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kamu agar kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu. (QS. Muhammad : 31)
Kemudian azab dimaknai suatu siksa atau balasan atas kejahatan, penyimpangan atau pelanggaran. Adzab ini ada yang diberikan sewaktu di dunia dan adapula di Akhirat. Al-Qur’an berkali-kali menjelaskan adanya adzab ini:

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim: 7)
 Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al-A’raf: 96)
Adapun musibah, bala’ dan adzab ketiga-tiganya berasal dari Allah yang kesemuanya itu tidak diinginkan di dalam kehidupan kita. Supaya hal tersebut tidak menimpa kita Rasulullah memberi saran melalui hadisnya:
“Bersegeralah bersedekah, sebab namanya bala’ tidak pernah bisa mendahului sedekah”
“Bersegeralah walau sepotong kurma karena dapat mengenyangkan orang lain dan dapat menutup pintu kesalahan seperti halnya air yang dapat memadamkan api”
4.      Menolak penyakit.
Penyakit yang diderita itu pada dasarnya ada dua, yaitu penyakit fisik dan penyakit batin. Dengan bersedekah bisa mengobati atau menolak penyakit itu (entah batin atau fisik). Kalau melihat penjelasan dalam Al-Qur’an, sedekah itu dapat mengusir penyakit batin yang dimasukkan setan pada kita yaitu takut miskin yang membuahkan kebakhilan dan kekerdilan.
Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia[170]. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui. ( Al-Baqarah : 268) [170]  balasan yang lebih baik dari apa yang dikerjakan sewaktu di dunia.
Rasulullah menjelaskan sebagai berikut: “Obatilah penyakitmu dengan bersedekah”  “Sedekah itu dapat menolak 70 macam bala’ dan bencana yang paling ringan diantaranya penyakit kusta dan sopak”“Sedekah itu dapat menutup 70 pintu kejahatan”
5.      Memanjangkan umur.
Ada sebuah riwayat yang menceritakan bahwa suatu siang seorang yahudi lewat di depan Rasulullah Saw. yang sedang duduk berbincang dengan sahabatnya. Tiba-tiba, begitu melihat orang Yahudi tersebut, Rasulullah mengatakan, “orang ini akan mati tak lama lagi”. Karena yang mengucapakan adalah Rasulullah Saw. maka tidak ada yang berkomentar atas perkataan Rasulullah itu.
Tetapi pada sore harinya, Rasulullah dan para sahabatnya melihat lagi orang Yahudi tersebut melintas. Dia terlihat sehat, bahkan segar bugar dengan memanggul beberapa batang kayu. Maka para sahabatpun terheran-heran. Bagaimana mungkin orang yang sudah diramal Rasul akan mati tapi kenyataannya masih hidup. Rasul pun lantas memanggil orang.
Alangkah terkejutnya semua yang ada di situ ketika dari dalam onggokan kayu itu keluar seekor ular yang sangat beracun. Siapapun akan mati jika tergigit oleh ular itu. “ seharusnya engkau telah mati digigit ular eracun in. Amal perbuatan apa yang telah kamu lakukan?” Rasulullah bertanya. Orang Yahudi itu menceritakan bahwa di tengah perjalanan menuju pulang, dia bertemu dengan seorang yang sangat miskin yang sedang meminta-minta. Meskipun dia tidak banyak memiliki harta benda, orang Yahudi itu memberikan sedekah semampunya kepada orang miskin yang meminta-minta itu.
Itu adalah petunjuk yang bisa kita jadikan acuan untuk memperbaiki diri. Bagaimana kemukjizatan sedekah, Allah tidak membedakan semua hambanya siapa yang bersedekah dengan ikhlas, maka Allah membalasnya dengan pembalasan yang lebih dan berlipat-lipat dari  apa yang telah di nafkahkannya.



[1] AN-Ubaedy, Hikmah Bersedekah Berkah dalam Kelapangan Hidup dengan Bergai Kebaikan, (Jakarta:Bee Media Indonesia, 2009), hal. 32